Wanita muslim

Wanita muslim
no coment

Kamis, 04 Agustus 2016

TUGAS 4 MEMBUAT MAKALAH

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat, serta karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah Pengantar Aplikasi Komputer yang berjudul ”Dampak Urbanisasi Terhadap Perekonomia di Kota Jakarta ”.
Saya ingin berterima kasih pada :
      1.            Drs. H. Dayat Hidayat, MM. selaku Rektor Universitas pamulang.
      2.            Drs. Buchori Nuriman selaku Warek I Universitas Pamulang.
      3.            Dr. Yuyun Darusman, SH. MM selaku Warek II Universitas Pamulang.
      4.            Ir. Sewaka, MM selaku Warek III Universitas Pamulang.
      5.            Dr. Budi Hasmantu selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang.
      6.            Endang Ruhiyat, SE. MM selaku Kaprodi Akuntansi Universitas Pamulang.
Selain itu saya juga ingin berterima kasih pada orang tua serta seluruh keluarga dan sahabat - sahabat saya yang telah mendukung sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis serta pembaca.


Pamulang, 06 Mei 2016


                                                                                           Penulis


DARTAR ISI


KATA PENGANTAR................................................................................     i
DAFTAR ISI................................................................................................      ii
BAB II      PEMBAHASAN
2.1. Gambaran umum..................................................................      1
2.2. Pembahasan..........................................................................      3
2.2.1. Proses urbanisasi.........................................................      3
2.2.2. Perekonomian Jakarta.................................................      8
2.2.3. Dampak urbanisasi terhadap perekonomian
 Kota Jakarta...............................................................      11
DAFTAR PUSTAKA











BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Gambaran umum
Pertumbuhan kota yang cepat sudah menjadi fenomena pembangunan baik negara maju maupun negara sedang berkembang. Untuk menganalisa pertumbuhan kota dan kaitanya dengan Ilmu Ekonomi Perkotaan maka perlu dikaitkan juga dengan analisa tentang Keuntungan Aglomerasi (Aglomeration Economies) dan beberapa model pertumbuhan ekonomi wilayah perkotaan. 
Jika proses urbanisasi mulai terjadi maka timbul secara otomatis proses pertumbuhan ekonomi wilayah perkotaan. Walaupun proses keuntungan komperatif, spesialisasi produksi dan keuntungan skala besar terus berlanjut, keuntungan aglomerasi akan terus juga berjalan. Pada dasarnya keuntungan aglomerasi adalah merupakan manfaat ekonomi dalam bentuk penurunan biaya produksi dan transportasi yang dapat ditimbulkan karena adanya beberapa kegiatan ekonomi terkait yang berlokasi saling berdekatan pada suatu wilayah tertentu.
Kenyataanya bukan hanya sektor swasta seperti industri, perdagangan dan jasa cenderung berkumpul (aglomerate) di kota tetapi juga sektor pemerintah  sesuai dengan hierarki daerah perkotaan. Berarti konsentrasi sektor pemerintah dilakukan sesuai dengan fungsi kota apakah sebagai ibukota negara, ibukota propinsi atau ibukota kabupaten. Kehadiran pemerintah adalah untuk memberikan pelayanan public kepada masyarakat khususnya dalam bidang penyediaan infrastruktur, fasilitas pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial lainya.
Rumah Tangga (Household) juga cendrung berkumpul di wilayah perkotaan (aglomerate) mengikuti perkembangan dunia usaha dan pemerintah. hal ini didorong oleh penyediaan lapangan kerja baik sektor swasta maupun sektor pemerintahan. Aglomerasi rumah tangga akan menentukan konsentrasi wilayah pemukiman penduduk yang juga merupakan komponen utama dalam pertumbuhan wilayah perkotaan.
Kenyataannya, perkembangan wilayah perkotaan umumnya meningkat cukup besar, baik daerah maju maupun terbelakang. Dengan menggunakan penduduk sebagai ukuran besarnya daerah perkotaan , maka pertumbuhan kota yang terjadi di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir terlihat bahwa sebagian besar kota-kota besar dengan penduduk di atas 1 juta orang yang terdapat di Indonesia terletak di pulau Jawa dengan DKI Jakarta merupakan kota terbesar yang sudah berstatus sebagai kota metropolitan dengan jumlah penduduk mencapai 9,9 juta orang pada tahun 2015.




2.2. Pembahasan
2.2.1. Proses urbanisasi
Urbanisasi dikaitkan dengan sikap hidup penduduk dalam lingkungan pedesaan yang mendapat pengaruh dari dari kehidupan kota. Dalam hal ini apakah mereka dapat bertahan pada cara hidup desa ataukah mereka mengikuti arus cara hidup orang kota yang belum mereka kenal secara mendalam, sehingga akan menimbulkan masalah-masalah sosiologis yang baru. Dari segi sosiologi urbanisasi dapat menimbulkan lapisan sosial yang baru dan menjadi beban kota, karena kebanyakan dari mereka yang tidak berhasil hidup layak di kota dan menjadi penggelandang daerah slum atau daerah hunian liar (Alma, 2010).
Urbanisasi yang dilakukan oleh para urban, bukan hanya keinginan sendiri akan tetapi mendapatkan dorongan dari teman, kerabat, dan bahkan saudara sendiri. Proses urbanisasi sangat terkait mobilitas maupun migrasi penduduk. Ada sedikit perbedaan antara mobilitas dan migrasi penduduk.
Mobilitas penduduk didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II, namun tidak berniat menetap di daerah yang baru Bedanya Migrasi penduduk lebih bermakna perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota. Sedangkan Mobilitas Penduduk berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara atau tidak menetap (Malo, 2007). Sedangkan migrasi didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II dan sekaligus berniat menetap di daerah yang baru tersebut. Di dalam pelaksanaan perhitungannya, data yang ada sampai saat ini baru merupakan data migrasi penduduk dan bukan data mobilitas penduduk.
 Di samping itu, data migrasi pun baru mencakup batasan daerah tingkat I. Dengan demikian, seseorang dikategorikan sebagai migran seumur hidup jika propinsi tempat tinggal orang tersebut sekarang ini, berbeda dengan propinsi dimana yang bersangkutan dilahirkan. Selain itu seseorang dikategorikan sebagai migran risen jika propinsi tempat tinggal sekarang berbeda dengan propinsi tempat tinggalnya lima tahun yang lalu.
Meningkatnya proses urbanisasi tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan pembangunan perkotaan, khususnya pembangunan ekonomi yang dikembangkan oleh pemerintah. Sebagaimana diketahui peningkatan jumlah penduduk akan berkorelasi positif dengan meningkatnya urbanisasi di suatu wilayah. Ada kecenderungan bahwa aktivitas perekonomian akan terpusat pada suatu area yang memiliki tingkat konsentrasi penduduk yang cukup tinggi. Hubungan positif antara konsentrasi penduduk dengan aktivitas kegiatan ekonomi ini akan menyebabkan makin membesarnya area konsentrasi penduduk, sehingga menimbulkan apa yang dikenal dengan nama daerah perkotaan.
Di sini dapat dilihat adanya keterkaitan timbal balik antara aktivitas ekonomi dengan konsentrasi penduduk. Para pelaku ekonomi cenderung melakukan investasi di daerah yang telah memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi serta memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Karena dengan demikian mereka dapat menghemat berbagai biaya, antara lain biaya distribusi barang dan jasa. Sebaliknya, penduduk akan cenderung datang kepada pusat kegiatan ekonomi karena di tempat itulah mereka akan lebih mudah memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan . Dengan demikian, urbanisasi merupakan suatu proses perubahan yang wajar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk atau masyarakat.
Masyarakat desa yang melakukan urbanisasi ke kota, tentu memiliki tujuan untuk meningkatkan dan memecahkan masalah ekonomi yang dihadapinya. Masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat desa biasanya disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi yang kurang memadai dan jenis kegiatan ekonomi yang monoton (Pradja, 2014). Proses Terjadinya Urbanisasi juga dipengaruhi faktor – faktor urbanisai yang bagi menjadi 2,  yakni :



2.2.1.1. Faktor penarik
Faktor yang menarik perhatian masyarakat yang akan maupun  yang sudah melakukan dibagi dalam beberapa faktor :
a.    Kehidupan kota yang lebih modern dan mewah
Masyarakat desa yang akan melakukan urbanisasi akan berfikir jika kehidupan di kota itu indah karena mereka akan merasa bahwa mereka itu modern dan hidup dalam kemewahan.
b.    Sarana dan prasarana yang lebih lengkap
Faktor inilah yang membuat masyarakat semakin tertarik untuk melakukan urbanisasi, karena di kota lengkapnya sarana dan prasarana dapat menunjang kehidupan mereka.
c.    Banyak lapangan kerja dikota
Berbagai macam pekerjaan di kota juga dapat menarik perhatian masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
d. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan berkualitas
Para urban tidak hanya mencari pekerjaan di kota-kota besar akan tetapi ada juga yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena lebih baik akan kualitasnya.
2.2.1.2. Faktor pendorong
Pengaruh untuk melakukan urbanisasi tidak hanya dengan adanya faktor penarik saja, tetapi faktor pendorong pun juga berpengaruh terhadap masyarakat yang melakukan urbanisasi. Faktor pendorong diantaranya :
a.    Lahan Pertanian yang Semakin Sempit
Lahan pertanian di desa yang semakin sempit, yang pada umumnya pekerjaan masyarakat desa bertani membuat masyarakat bingung untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Karena lahan di desa semakin sempit maka warga desa pun mengambil inisiatif untuk mencari pekerjaan di kota, agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.
b.    Terbatasnya Sarana dan Prasarana di desa
Kurangnya sarana dan prasarana di desa adalah salah satu faktor warga desa melakukan perpindahan ke tempat yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
c.    Memiliki Impian Kuat Menjadi Orang Kaya
Adanya suatu keinginan yang kuat untuk menjadi orang kaya dapat membuat masyarakat desa terdorong untuk melakukan urbanisasi.
2.2.2. Perekonomian Jakarta
Jakarta merupakan kota metropolitan yang terbesar di Indonesia dan menjadi tumpuan ekonomi lebih dari 8 juta penduduknya. Lebih dari 10 juta unit kendaraan mengalir kesana-kemari di jalanan Jakarta setiap harinya. Kereta komuter mengantarkan hampir 1 juta orang ke kantornya setiap pagi dan satu juta orang yang sama kembali ke rumahnya pada sore harinya.
Dan Jakarta merupakan salah satu kota di Asia dengan masyarakat kelas menengah cukup besar. Pada tahun 2009, 13% masyarakat Jakarta berpenghasilan di atas US$ 10.000. Jumlah ini, menempatkan Jakarta sejajar dengan Singapura, Shanghai, dan Mumbai.
Selain sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga merupakan pusat bisnis dan keuangan. Di samping Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia kantor-kantor pusat perusahaan nasional banyak berlokasi di Jakarta. Saat ini, lebih dari 70% uang negara, beredar di Jakarta.
Peningkatan daya tampung saluran air, disiplin jalan raya, rumah murah, dan  kebijakan ke arah pengembangan kota harus akuntabel yang pada gilirannya, semua itu akan meningkatkan daya topang ruang dan struktur perekonomian Jakarta. Karena sesungguhnya, tidak ada jalan lain kecuali terus melakukan pembangunan Jakarta untuk menyediakan lahan lebih luas, jalan, saluran air, rumah dan pekerjaan bagi lebih banyak orang yang menggantungkan mimpinya di langit Jakarta. Sistem perekonomian yang digunakan oleh pemerintah di Jakarta menggunakan sistem ekonomi campuran yang berasaskan undang-undang.
Pada pertengahan Januari lalu, Bank Indonesia menetapkan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,75%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8,00% dan 5,75%. Kemudikan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi Indonesia di 2014 dan prospek ekonomi 2015 dan 2016 yang menunjukkan bahwa kebijakan tersebut masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran  kurang lebih 1% pada 2015 dan 2016, dan mendukung pengendalian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.
Mengacu  pada evaluasi terhadap perekonomian di tahun lalu, di tahun ini Bank Indonesia memperkirakan  perekonomian Indonesia semakin baik, dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabilitas makro ekonomi yang tetap terjaga, ditopang oleh perbaikan ekonomi global dan semakin kuatnya reformasi struktural dalam memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Perekonomian Indonesia tahun 2014 diprakirakan tumbuh sebesar 5,1%, melambat dibandingkan dengan 5,8% pada tahun sebelumnya. Dari sisi eksternal, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh ekspor yang menurun akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global, serta adanya kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah. Meskipun ekspor secara keseluruhan menurun, ekspor manufaktur cenderung membaik sejalan dengan berlanjutnya pemulihan Amerika Serikat. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan tersebut didorong oleh terbatasnya konsumsi pemerintah seiring dengan program penghematan anggaran.
Sementara itu,  kegiatan investasi juga masih tumbuh terbatas. Kinerja pertumbuhan ekonomi yang masih cukup tinggi terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi, yaitu tumbuh pada kisaran 4-8%. Berbeda dengan 2014, di samping tetap kuatnya konsumsi rumah tangga, tingginya pertumbuhan ekonomi di 2015 juga akan didukung oleh ekspansi konsumsi dan investasi pemerintah sejalan dengan peningkatan kapasitas fiskal untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk pembangunan infrastruktur.



2.2.3. Dampak urbanisasi terhadap perekonomian kota Jakarta
Urbanisasi sangat berpengaruh terhadap perekonomian kota-kota yang menjadi tujuan para urban, dampak urbanisasi terhadap ekonomi masyarakat di kota Jakarta dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu,  dampak positif dan dampak negatif. Dampak-dampak urbanisasi dapat berpengaruh terhadap penduduk, pemerintah, dan masyarakat.
4.2.3.1. Dampak positif
Urbanisasi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota Jakarta, dengan adanya para urban yang melakukan urbanisasi dapat juga menambah pendapatan daerah tersebut.
Urbanisasi juga sangat berperan terhadap pemerintah karena para urban yang melakukan urbanisasi dapat menambah pendapatan pemerintah. Terhadap penduduk kota yang memilki tingkatan yang tinggi atau top level juga dapat mendapatkan keuntungan dari para urban karena dapat menggunakan jasanya dalam melakukan pekerjaannya.
Dan terhadap masyarakat urbanisasi dapat membantu masyarakat kota tersebut dengan saling memberikan pertolongan, misalnya masyarakat desa dapat membuatkan obat tradisional yang dapat menyembuhkan penyakit kepada masyarakat kota yang sakit.
2.2.3.2. Dampak negatif
Urbanisasi mempunyai dampak negatif terhadap pemerintah karena para urban yang melakukan urbanisasi dapat membuat pemerintah semakin susah untuk mengatur keadaan masyarakat karena padatnya penduduk dikota Jakarta. Dan terhadap masyarakat urbanisasi dapat membuat kenyamanan di kota Jakarta mengurang karena semakin padatnya penduduk yang menempati kota Jakarta.
2.2.3.3. Penanggulangan dampak negatif urbanisasi
Untuk menanggulangi atau bahkan mencegah dampak urbanisasi, perlu diupayakan untuk menekan laju urbanisasi. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.      Pemerataan pembangunan industri sampai ke desa-desa.
2.      Pembangunan infrastruktur jalan ke desa-desa sehingga memperlancar hubungan desa dengan kota.
3.      Mengoptimalkan usaha pertanian, sehingga tingkat pendapatan masyarakat desa meningkat.
4.      Pembangunan fasilitas umum di desa, seperti listrik, puskesmas, sekolah, pasar dan lain-lain.





DAFTAR PUSTAKA

Alma, B. (2010). Pembelajaran Study Sosial. Bandung: Alfabeta.
Malo, M. (2007). Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Pradja, J. S. (2014). Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: CV Pustaka Setia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar