KATA
PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT.
yang telah memberikan rahmat, serta karunia-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas makalah Pengantar Aplikasi Komputer yang berjudul ”Dampak Urbanisasi Terhadap Perekonomia di Kota Jakarta ”.
Saya ingin berterima kasih pada :
1.
Drs. H. Dayat Hidayat, MM. selaku
Rektor Universitas pamulang.
2.
Drs. Buchori Nuriman selaku Warek I
Universitas Pamulang.
3.
Dr. Yuyun Darusman, SH. MM selaku
Warek II Universitas Pamulang.
4.
Ir. Sewaka, MM selaku Warek III
Universitas Pamulang.
5.
Dr. Budi Hasmantu selaku Dekan
Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang.
6.
Endang Ruhiyat, SE. MM selaku
Kaprodi Akuntansi Universitas Pamulang.
Selain
itu saya juga ingin berterima kasih pada orang tua serta seluruh keluarga dan
sahabat - sahabat saya yang telah mendukung sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini.
Saya
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai
pihak demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis serta pembaca.
Pamulang,
06 Mei 2016
Penulis
DARTAR
ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR
ISI................................................................................................ ii
BAB
II PEMBAHASAN
2.1. Gambaran umum.................................................................. 1
2.2. Pembahasan.......................................................................... 3
2.2.1. Proses urbanisasi......................................................... 3
2.2.2. Perekonomian Jakarta................................................. 8
2.2.3. Dampak urbanisasi terhadap
perekonomian
Kota Jakarta............................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Gambaran umum
Pertumbuhan kota yang cepat sudah menjadi fenomena
pembangunan baik negara maju maupun negara sedang berkembang. Untuk menganalisa pertumbuhan kota
dan kaitanya dengan Ilmu Ekonomi Perkotaan maka perlu dikaitkan juga dengan
analisa tentang Keuntungan Aglomerasi (Aglomeration Economies) dan
beberapa model pertumbuhan ekonomi wilayah perkotaan.
Jika proses urbanisasi mulai terjadi maka timbul
secara otomatis proses pertumbuhan ekonomi wilayah perkotaan. Walaupun proses
keuntungan komperatif, spesialisasi produksi dan keuntungan skala besar terus
berlanjut, keuntungan aglomerasi akan terus juga berjalan. Pada dasarnya
keuntungan aglomerasi adalah merupakan manfaat ekonomi dalam bentuk penurunan
biaya produksi dan transportasi yang dapat ditimbulkan karena adanya beberapa
kegiatan ekonomi terkait yang berlokasi saling berdekatan pada suatu wilayah
tertentu.
Kenyataanya bukan hanya sektor swasta seperti industri,
perdagangan dan jasa cenderung berkumpul (aglomerate) di kota tetapi
juga sektor pemerintah sesuai dengan hierarki daerah perkotaan. Berarti
konsentrasi sektor pemerintah dilakukan sesuai dengan fungsi kota apakah
sebagai ibukota negara, ibukota propinsi atau ibukota kabupaten. Kehadiran
pemerintah adalah untuk memberikan pelayanan public kepada masyarakat khususnya
dalam bidang penyediaan infrastruktur, fasilitas pendidikan, kesehatan dan
pelayanan sosial lainya.
Rumah Tangga (Household) juga cendrung berkumpul
di wilayah perkotaan (aglomerate) mengikuti perkembangan dunia usaha dan
pemerintah. hal ini didorong oleh
penyediaan lapangan kerja baik sektor swasta maupun sektor pemerintahan.
Aglomerasi rumah tangga akan menentukan konsentrasi wilayah pemukiman penduduk
yang juga merupakan komponen utama dalam pertumbuhan wilayah perkotaan.
Kenyataannya, perkembangan wilayah perkotaan umumnya
meningkat cukup besar, baik daerah maju maupun terbelakang. Dengan menggunakan
penduduk sebagai ukuran besarnya daerah perkotaan , maka pertumbuhan kota yang
terjadi di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir terlihat bahwa sebagian besar
kota-kota besar dengan penduduk di atas 1 juta orang yang terdapat di Indonesia
terletak di pulau Jawa dengan DKI Jakarta merupakan kota terbesar yang sudah
berstatus sebagai kota metropolitan dengan jumlah penduduk mencapai 9,9 juta
orang pada tahun 2015.
2.2. Pembahasan
2.2.1.
Proses urbanisasi
Urbanisasi dikaitkan dengan sikap hidup penduduk dalam
lingkungan pedesaan yang mendapat pengaruh dari dari kehidupan kota. Dalam hal
ini apakah mereka dapat bertahan pada cara hidup desa ataukah mereka mengikuti
arus cara hidup orang kota yang belum mereka kenal secara mendalam, sehingga
akan menimbulkan masalah-masalah sosiologis yang baru. Dari segi sosiologi
urbanisasi dapat menimbulkan lapisan sosial yang baru dan menjadi beban kota,
karena kebanyakan dari mereka yang tidak berhasil hidup layak di kota dan
menjadi penggelandang daerah slum atau daerah hunian liar (Alma, 2010) .
Urbanisasi
yang dilakukan oleh para urban, bukan hanya keinginan sendiri akan tetapi
mendapatkan dorongan dari teman, kerabat, dan bahkan saudara sendiri. Proses urbanisasi
sangat terkait mobilitas maupun migrasi penduduk. Ada sedikit perbedaan antara
mobilitas dan migrasi penduduk.
Mobilitas penduduk didefinisikan
sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II,
namun tidak berniat menetap di daerah yang baru Bedanya Migrasi penduduk lebih
bermakna perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk tinggal
menetap di kota. Sedangkan Mobilitas Penduduk berarti perpindahan penduduk yang
hanya bersifat sementara atau tidak menetap (Malo, 2007) . Sedangkan migrasi didefinisikan
sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif tingkat II dan
sekaligus berniat menetap di daerah yang baru tersebut. Di dalam pelaksanaan
perhitungannya, data yang ada sampai saat ini baru merupakan data migrasi
penduduk dan bukan data mobilitas penduduk.
Di samping itu, data
migrasi pun baru mencakup batasan daerah tingkat I. Dengan demikian, seseorang
dikategorikan sebagai migran seumur hidup jika propinsi tempat tinggal orang
tersebut sekarang ini, berbeda dengan propinsi dimana yang bersangkutan
dilahirkan. Selain itu seseorang dikategorikan sebagai migran risen jika propinsi
tempat tinggal sekarang berbeda dengan propinsi tempat tinggalnya lima tahun
yang lalu.
Meningkatnya
proses urbanisasi tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan pembangunan
perkotaan, khususnya pembangunan ekonomi yang dikembangkan oleh pemerintah. Sebagaimana diketahui peningkatan
jumlah penduduk akan berkorelasi positif dengan meningkatnya urbanisasi di
suatu wilayah. Ada kecenderungan bahwa aktivitas perekonomian akan terpusat
pada suatu area yang memiliki tingkat konsentrasi penduduk yang cukup tinggi.
Hubungan positif antara konsentrasi penduduk dengan aktivitas kegiatan ekonomi
ini akan menyebabkan makin membesarnya area konsentrasi penduduk, sehingga
menimbulkan apa yang dikenal dengan nama daerah perkotaan.
Di sini dapat dilihat adanya keterkaitan timbal balik antara
aktivitas ekonomi dengan konsentrasi penduduk. Para pelaku ekonomi cenderung
melakukan investasi di daerah yang telah memiliki konsentrasi penduduk yang
tinggi serta memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Karena dengan demikian
mereka dapat menghemat berbagai biaya, antara lain biaya distribusi barang dan
jasa. Sebaliknya, penduduk akan cenderung datang kepada pusat kegiatan ekonomi
karena di tempat itulah mereka akan lebih mudah memperoleh kesempatan untuk
mendapatkan pekerjaan . Dengan demikian, urbanisasi merupakan suatu proses
perubahan yang wajar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk atau
masyarakat.
Masyarakat
desa yang melakukan urbanisasi ke kota, tentu memiliki tujuan untuk
meningkatkan dan memecahkan masalah ekonomi yang dihadapinya. Masalah ekonomi
yang dihadapi masyarakat desa biasanya disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi
yang kurang memadai dan jenis kegiatan ekonomi yang monoton (Pradja, 2014) . Proses
Terjadinya Urbanisasi juga
dipengaruhi faktor – faktor urbanisai yang bagi menjadi 2, yakni :
2.2.1.1.
Faktor penarik
Faktor yang
menarik perhatian masyarakat yang akan maupun yang sudah melakukan dibagi dalam beberapa
faktor :
a.
Kehidupan
kota yang lebih modern dan mewah
Masyarakat desa
yang akan melakukan urbanisasi akan berfikir jika kehidupan di kota itu indah
karena mereka akan merasa bahwa mereka itu modern dan hidup dalam kemewahan.
b.
Sarana
dan prasarana yang lebih lengkap
Faktor inilah
yang membuat masyarakat semakin tertarik untuk melakukan urbanisasi, karena di
kota lengkapnya sarana dan prasarana dapat menunjang kehidupan mereka.
c.
Banyak
lapangan kerja dikota
Berbagai macam
pekerjaan di kota juga dapat menarik perhatian masyarakat desa untuk melakukan
urbanisasi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
d.
Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan berkualitas
Para urban
tidak hanya mencari pekerjaan di kota-kota besar akan tetapi ada juga yang
melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena lebih baik akan
kualitasnya.
2.2.1.2.
Faktor pendorong
Pengaruh untuk melakukan urbanisasi tidak hanya dengan adanya faktor
penarik saja, tetapi faktor pendorong pun juga berpengaruh terhadap masyarakat
yang melakukan urbanisasi. Faktor pendorong diantaranya :
a. Lahan Pertanian yang Semakin Sempit
Lahan pertanian di desa yang semakin sempit, yang pada
umumnya pekerjaan masyarakat desa bertani membuat masyarakat bingung untuk
mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Karena lahan di desa semakin
sempit maka warga desa pun mengambil inisiatif untuk mencari pekerjaan di kota,
agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.
b. Terbatasnya Sarana dan Prasarana di desa
Kurangnya sarana dan prasarana di desa adalah salah
satu faktor warga desa melakukan perpindahan ke tempat yang memiliki sarana dan
prasarana yang memadai.
c. Memiliki Impian Kuat Menjadi Orang Kaya
Adanya suatu keinginan yang kuat untuk menjadi orang kaya
dapat membuat masyarakat desa terdorong untuk melakukan urbanisasi.
2.2.2. Perekonomian Jakarta
Jakarta
merupakan kota metropolitan yang terbesar di Indonesia dan menjadi tumpuan
ekonomi lebih dari 8 juta penduduknya. Lebih dari 10 juta unit kendaraan
mengalir kesana-kemari di jalanan Jakarta setiap harinya. Kereta komuter
mengantarkan hampir 1 juta orang ke kantornya setiap pagi dan satu juta orang
yang sama kembali ke rumahnya pada sore harinya.
Dan Jakarta
merupakan salah satu kota di Asia dengan masyarakat kelas menengah cukup besar.
Pada tahun 2009, 13% masyarakat Jakarta berpenghasilan di atas US$ 10.000.
Jumlah ini, menempatkan Jakarta sejajar dengan Singapura, Shanghai, dan Mumbai.
Selain
sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga merupakan pusat bisnis dan keuangan.
Di samping Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia kantor-kantor pusat perusahaan nasional
banyak berlokasi di Jakarta. Saat ini, lebih dari 70% uang negara, beredar di
Jakarta.
Peningkatan
daya tampung saluran air, disiplin jalan raya, rumah murah, dan kebijakan ke arah pengembangan kota harus
akuntabel yang pada gilirannya, semua itu akan meningkatkan daya topang ruang
dan struktur perekonomian Jakarta. Karena sesungguhnya, tidak ada jalan lain
kecuali terus melakukan pembangunan Jakarta untuk menyediakan lahan lebih luas,
jalan, saluran air, rumah dan pekerjaan bagi lebih banyak orang yang
menggantungkan mimpinya di langit Jakarta. Sistem perekonomian yang
digunakan oleh pemerintah di Jakarta menggunakan sistem ekonomi campuran yang
berasaskan undang-undang.
Pada pertengahan Januari lalu, Bank Indonesia menetapkan
untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,75%, dengan suku bunga Lending Facility
dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8,00% dan 5,75%.
Kemudikan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi Indonesia
di 2014 dan prospek ekonomi 2015 dan 2016 yang menunjukkan bahwa kebijakan
tersebut masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke
sasaran kurang lebih 1% pada 2015 dan
2016, dan mendukung pengendalian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang
lebih sehat.
Mengacu pada
evaluasi terhadap perekonomian di tahun lalu, di tahun ini Bank Indonesia
memperkirakan perekonomian Indonesia semakin baik, dengan pertumbuhan ekonomi
yang lebih tinggi dan stabilitas makro ekonomi yang tetap terjaga, ditopang
oleh perbaikan ekonomi global dan semakin kuatnya reformasi struktural dalam
memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Perekonomian Indonesia tahun 2014 diprakirakan tumbuh sebesar
5,1%, melambat dibandingkan dengan 5,8% pada tahun sebelumnya. Dari sisi
eksternal, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh ekspor yang menurun
akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global, serta adanya kebijakan
pembatasan ekspor mineral mentah. Meskipun ekspor secara keseluruhan menurun,
ekspor manufaktur cenderung membaik sejalan dengan berlanjutnya pemulihan
Amerika Serikat. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan tersebut didorong
oleh terbatasnya konsumsi pemerintah seiring dengan program penghematan
anggaran.
Sementara itu, kegiatan
investasi juga masih tumbuh terbatas. Kinerja pertumbuhan ekonomi yang masih
cukup tinggi terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid.
Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi, yaitu
tumbuh pada kisaran 4-8%. Berbeda dengan 2014, di samping tetap kuatnya
konsumsi rumah tangga, tingginya pertumbuhan ekonomi di 2015 juga akan didukung
oleh ekspansi konsumsi dan investasi pemerintah sejalan dengan peningkatan
kapasitas fiskal untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk
pembangunan infrastruktur.
2.2.3.
Dampak urbanisasi terhadap perekonomian kota Jakarta
Urbanisasi
sangat berpengaruh terhadap perekonomian kota-kota yang menjadi tujuan para
urban, dampak urbanisasi terhadap ekonomi masyarakat di kota Jakarta
dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu,
dampak positif dan dampak negatif. Dampak-dampak urbanisasi dapat
berpengaruh terhadap penduduk, pemerintah, dan masyarakat.
4.2.3.1.
Dampak positif
Urbanisasi
dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota Jakarta, dengan adanya para
urban yang melakukan urbanisasi dapat juga menambah pendapatan daerah tersebut.
Urbanisasi juga
sangat berperan terhadap pemerintah karena para urban yang melakukan urbanisasi
dapat menambah pendapatan pemerintah. Terhadap penduduk kota yang memilki
tingkatan yang tinggi atau top level juga
dapat mendapatkan keuntungan dari para urban karena dapat menggunakan jasanya
dalam melakukan pekerjaannya.
Dan terhadap
masyarakat urbanisasi dapat membantu masyarakat kota tersebut dengan saling
memberikan pertolongan, misalnya masyarakat desa dapat membuatkan obat
tradisional yang dapat menyembuhkan penyakit kepada masyarakat kota yang sakit.
2.2.3.2.
Dampak negatif
Urbanisasi mempunyai
dampak negatif terhadap pemerintah karena para urban yang melakukan urbanisasi
dapat membuat pemerintah semakin susah untuk mengatur keadaan masyarakat karena
padatnya penduduk dikota Jakarta. Dan terhadap masyarakat urbanisasi dapat
membuat kenyamanan di kota Jakarta mengurang karena semakin padatnya penduduk
yang menempati kota Jakarta.
2.2.3.3.
Penanggulangan dampak negatif urbanisasi
Untuk
menanggulangi atau bahkan mencegah dampak urbanisasi, perlu diupayakan untuk
menekan laju urbanisasi. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1.
Pemerataan
pembangunan industri sampai ke desa-desa.
2.
Pembangunan
infrastruktur jalan ke desa-desa sehingga memperlancar hubungan desa dengan
kota.
3.
Mengoptimalkan
usaha pertanian, sehingga tingkat pendapatan masyarakat desa meningkat.
4.
Pembangunan
fasilitas umum di desa, seperti listrik, puskesmas, sekolah, pasar dan
lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Alma, B. (2010). Pembelajaran Study Sosial.
Bandung: Alfabeta.
Malo,
M. (2007). Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Pradja,
J. S. (2014). Pengantar Ilmu Ekonomi. Bandung: CV Pustaka Setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar